Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

RED SUN BAB 1 - BUCIN

RED SUN BAB 1 - BUCIN


Baca novel gratis online - Red Sun Genre Romantis Thriller Persahabatan




Malam itu, tetesan air hujan jatuh tepat pada penutup mata seorang laki-laki berseragam sekolah. Tubuhnya tengkurap tak berdaya dengan tali mengikat di tangan dan kakinya.


Nafasnya terengah-engah, seakan tak mampu lagi berteriak. Pikirnya pun tak henti menerka-nerka, entah siapa yang berani menyiksa lelaki dengan julukan ter-macho disekolah sepertinya.


Tak lama suara high heels berjalan menghampirinya. Ini bukan yang pertama. Dia yakin ada beberapa sosok yang menyiksanya. Apakah ini pemimpin komplotan penyiksa?


Beberapa hari sebelumnya


"Udah lama nunggunya?" tanya pangeran tampan di depanku. Sosok yang perhatian dan satu-satunya laki-laki yang selalu tersenyum padaku.


Aku hanya mengangguk manja sembari tersenyum menjawab pertanyaannya.


"Maaf ya.." sambil memakaikan aku helm khusus seperti hari-hari sebelumnya.


Inilah rutinitas manis setiap pagi didepan rumahku. Menikmati hembusan angin pagi bersama laki-laki yang menyayangiku.


"Kes, nanti jangan lupa nonton aku tanding ya?" tanyanya lembut namun berhasil memecahkan lamunanku.


"Oh hari ini? Siap beb!" ucapku semangat.


"Tapi nonton aku aja ya, jangan yang lain!" perintah anehnya. Jelas-jelas aku hanya akan fokus padanya, baik nanti maupun sekarang.


Meski tertutup helm, aku masih bisa menghirup aroma rambutnya yang lembut. Harum yang senada dengan parfum yang kuberikan padanya. Kurasa, dia menggunakan parfum pemberianku juga di lehernya yang menawan. 


Ah! Benar-benar! Fokus ku hanya pada sosok tampan dan lembut yang hangat ini. Namun dia, tetap fokus mengendarai. Yah, jangan sampai dia sadar bahwa aku terlalu fokus dan menikmati pesonanya. Bisa-bisa dia menganggap ku terobsesi padanya.


"Ayo turun!" ajaknya yang menghancurkan lamunanku tentang dirinya.


"Udah nyampe lho sayang!" lanjutnya sambil menengok ke arah aku yang berada dibelakangnya. Aku yang sempat tak menyangka bahwa sudah sampai pun akhirnya turun dari motor kesayangan orang yang ku sayang ini.


"Cepet banget nyampenya, padahal masih pengen goncengan sama kamu." ungkap ku yang masih tak rela berhenti memeluknya.


"Haha, nantikan kita bisa goncengan lagi." hiburnya sambil membantu aku melepaskan helm. "Yuk! Aku antar ke kelas kamu." lanjutnya sambil menggenggam tanganku erat. Meski sering terjadi, entah mengapa aku selalu berdebar setiap orang yang sangat ku cintai ini menyentuhku.


Dengan debaran di dalam hatiku, kami pun berjalan sambil bergandengan tangan. Tangannya yang hangat, ucapannya yang lembut. Ah! Sungguh bahagia pergi ke sekolah. Namun mengapa kebahagian ini hanya sebentar?


"Udah sampai, masuk gih!" ucapnya yang mengantarku tepat didepan pintu kelasku. 


"Gak ngobrol dulu?" aku yang tak terima dengan singkatnya waktu pun mencoba mengulur kepergiannya, yang hanya ke kelasnya disebelah.


"Kan dari tadi kita ngobrol sayang, dari di motor juga."


"Masih kurang!" protes ku sambil memanjakan diri.


"Ih sayang ku ini, gemes banget ih kamu!" ucapnya sambil mencubit pipiku yang tidak tembam ini. "Nanti jangan lupa nonton aku, ya! Aku gak semangat kalau gak ada kamu."


"Ah gombal!" salam perpisahan kami. Untungnya hanya berpisah sementara saja.


"Pagi tuan putri kesya, selalu bahagia ya tiap pagi. Gak kayak sobatnya tuh, selalu ngantuk." suara Ivy terdengar jelas olehku yang hanya berjarak 3 meter darinya.


"Eh sobat lu tuh begadang tiap hari atau gimana sih? Kok bisa ya ngantuk mulu?" lanjutnya yang rupanya bukan hanya memantau ku berpisah arah kelas dengan Rendy saja.


"Pagi, Anastasya" sapa ku yang sudah biasa dengan rutinitas sahabatku sejak kecil ini.


"Malam, Kesya" jawabnya setelah sempat sedikit membuka mata memastikan keberadaan ku.


"Nas, sahur nas sahur!" goda Ivy sambil menggoyangkan tubuh Anas yang setengahnya bertumpu pada meja.


"Kita gak sedekat itu ya buat saling bangunin sahur." celoteh sahabatku yang tak juga membuka matanya.


"Tapikan kita sesama bule. Sesama bule harus saling bangunin, lho!" aku geli dengan percakapan mereka. Ya, walaupun wajah mereka terkesan bule. Tapi Anas, selalu mengaku dirinya Indonesia tulen.


"Guru! Guru!" ucap sahabatku yang lain, Viona. Dia baru saja masuk ke kelas dan memecahkan suasana. Yang tadinya ramai, menjadi hening seketika diikuti dengan datangnya pengajar kami.


"Good morning all!" sapa bu Tantri seketika menginjakkan kaki dikelas.


"Good morning, sir!" balas teman-teman sekelas ku dengan hampir kompak. Memang tak mudah untuk kompak meski hanya dengan tiga kata.


"Ok! Open your book, we will study about expressing love and sadness. Do you know it?" semua mata tertuju pada guru yang ramah dan menjadi favorit kebanyakan teman-teman di sekolahku.


Awalnya aku pun memperhatikan. Namun entah mengapa, perlahan wajah guruku yang terbaik itu menyerupai sesuatu yang ku kenal. Tidak! Bukan hanya kukenal, tapi ku suka. Ya! Perlahan wajah bu Tantri menyerupai Rendy, pacarku.


Kata orang, jika dua orang tak bersaudara namun mirip, maka mereka berjodoh. Hah? Aku memang menghormati bu Tantri, tapi tentu aku tak rela jika Rendy berjodoh dengannya. Rendy harus berjodoh denganku, apapun yang terjadi.


Akhirnya aku memutuskan untuk mengalihkan pandangan dari bu Tantri, maaf bu. Namun aku tak kalah terkejut, mengapa semua teman sekelas ku memakai wajah Rendy? Bahkan Anas?! Apa aku sedang dimabuk asmara? Tapi bukankah aku hampir satu tahun menjalani kisah cinta ini?


"Kes!" panggil anas sambil mencolek tanganku. Namun matanya tetap tertuju pada bu Tantri, seakan memberi kode kepadaku.


"Any question, Kesya Adisty?" benar saja, sepertinya bu Tantri dengan wajah aslinya telah memperhatikan ku sedari tadi.


"Not, sir!" tiba-tiba lidahku terasa kaku.


"Ok, can you tell me about expressing love and sadness?" entah apa yang bu Tantri ucapkan. Hanya kata love lah yang aku tangkap. Tapi aku yakin bahwa bu Tantri sedang bertanya padaku. Lalu, aku harus jawab apa?


"Pernyataan cinta, pernyataan cinta." bisik Anastasya. Sepertinya dia bisa mendengar suara hatiku. Memang hebat tukang tidur satu ini.


Sebentar, pernyataan cinta? Bu Tantri ingin aku menyatakan cinta? Pada siapa? Pada dirinya? Ah! Aku tahu harus apa. "I love Rendy, he is my prince charming." teman-teman sekelas ku pun tertawa. Dan kulihat raut heran di wajah bu Tantri. Untungnya, bel tanda istirahat menyelamatkan aku.


"Yuk nonton basket!" ajakan Viona mengagetkan ku yang mencoba melihat kearah bu Tantri pergi.


"Oh iya, ayok!" reflek ku yang tak lupa menarik Anas untuk ikut bersama kami menuju lapangan basket, tempat Rendy bermain.


"Kita mau kemana sih?" tanya Anas yang sedari tadi berjalan malas karena ku tarik paksa.


"Kemana lagi Nas? Nonton basket lah!" jawaban Viona yang cukup membantuku. Meskipun sebenarnya bukan menonton basket lah tujuanku. Melainkan menonton pria tertampan disekolah, Rendy.


"Ah kalau gitu gue gak ikut deh!" ucap Anas menghentikan langkah kami.


"Ayolah temenin gue! Masa kita cuman berdua?"


"Udah lu berdua aja yang ke sana!"


"Udahlah Kes, paling dia males nonton pangeran impiannya." ucap Viona menggoda Anas.


"Dia yang ngejar gue!"


"Ceileh, ada rasakan lu? Makanya menghindar." tak mau kalah, aku pun ikut menggoda sahabatku yang cantik ini. Sebenarnya aku juga heran mengapa dia menghindar dari Aldo? Padahal mereka dulu begitu dekat. Apa dulu mereka punya hubungan khusus yang tak ku ketahui? Dan sekarang berakhir?


"Dahlah, bye!" Anas pun pergi meninggalkan aku dan Viona, seakan tak tahan dengan godaan kami terhadapnya.


Aku dan Viona pun kembali melanjutkan perjalanan kami yang terasa jauh. Entah kapan aku bisa sampai didepan laki-laki yang ku cinta. Bagaimana permainannya nanti? Ah! Sejak kapan aku peduli dengan permainannya. Aku jatuh cinta dengan pesona dan tingkah lakunya, bukan permainan basketnya.


Viona menghentikan langkahnya, menatap ke lorong sebelah kiri yang berada tak jauh dari area basket, tempat yang kami tuju. Perempuan berkulit putih tampak memeluk seorang pria. Ya! Itu punggung seorang pria, punggung yang tak asing bagiku. Namun, kuharap itu hanya kesamaan saja.



"Apa-apaan ini?" suara tegas Viona yang mengagetkan itu, rupanya berhasil membuat sosok laki-laki itu menengok ke arah kami. Punggung yang tidak asing itu, ternyata memang milik orang yang ku kenal. Tidak! Bukan hanya ku kenal, namun juga ku cinta.


Kembali ke Sinopsis | Selanjutnya